Penyebab Air Ketuban Sedikit dan Tanda-Tanda yang Harus Diperhatikan

Penyebab Air Ketuban Sedikit dan Tanda-Tanda yang Harus Diperhatikan

  • November 5, 2021

Air ketuban merupakan cairan dalam rahim yang berfungsi melindungi janin dan mendukung tumbuh kembangnya. Namun, jumlah air ketuban ternyata berpengaruh terhadap kondisi janin. Bumil perlu mewaspadai penyebab air ketuban. Air ketuban terdiri dari cairan tubuh ibu dan urin janin, dan mulai terbentuk pada minggu-minggu pertama setelah pembuahan.

Kadar air ketuban mencerminkan kondisi kesehatan bayi. Karena itu pemeriksaan jumlah air ketuban sangat penting. Jumlah air ketuban yang terlalu sedikit bisa menimbulkan komplikasi, dan dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui penyebab air ketuban sedikit

Berapa kadar air ketuban yang normal?

Saat seorang wanita hamil, dokter akan mengukur jumlah cairan ketuban dalam rahim dengan melakukan berbagai metode pengukuran seperti pengukuran kantong dalam atau evaluasi indeks cairan ketuban (AFI). Kadar air ketuban yang normal ditandai dengan beberapa indikator, seperti:

  • Terdapat kantong cairan sedalam 2-3 cm
  • Cairan setinggi 5 cm
  • Volume cairan ketuban ≥ 500 ml pada usia kehamilan 32-36 minggu

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan indikator di atas tidak terpenuhi, maka bisa dikatakan ibu memiliki cairan ketuban sedikit atau oligohidramnion. Kondisi ini merupakan hal yang jarang, hanya sekitar 8% ibu hamil dengan air ketuban sedikit dan 4 persennya memiliki kadar yang sangat sedikit. 

Apa saja yang menyebabkan air ketuban sedikit?

Dalam kebanyakan kasus, penyebab air ketuban sedikit tidak jelas atau terjadi secara tiba-tiba. Tapi ada beberapa hal yang dipercaya dapat menyebabkan air ketuban sedikit, diantaranya:

  • Masalah kesehatan ibu, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, hipoksia kronis, preeklamsia, dan dehidrasi
  • Ibu mengonsumsi obat-obatan tertentu
  • Cacat bawaan, termasuk masalah perkembangan ginjal atau saluran kemih pada bayi yang menyebabkan produksi urin lebih rendah sehingga mengakibatkan cairan ketuban sedikit
  • Masalah pada plasenta ibu yang tidak mampu menyediakan cukup darah dan nutrisi untuk bayi
  • Solusio plasenta atau plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum melahirkan
  • Ketuban pecah dini
  • Usia kehamilan sudah lebih dari 42 minggu

Tanda-tanda ibu memiliki air ketuban sedikit?

Kurangnya air ketuban bisa dipastikan melalui pemeriksaan, namun sebelum itu Anda bisa memperhatikan hal-hal berikut sebagai tanda-tanda kurangnya kadar air ketuban dalam rahim:

  • Terdapat cairan bening yang keluar dari vagina
  • Gerakan bayi tiba-tiba melambat atau tidak bergerak
  • Tidak ada penambahan berat badan
  • Melalui hasil USG terdapat indikasi bayi tidak tumbuh dengan baik

Apakah anak akan lahir cacat jika air ketuban ibu sedikit?

Rendahnya kadar air ketuban bisa terjadi kapan saja selama kehamilan. Jika mendekati akhir tanggal persalinan dan tidak ditemukan penyebab apapun, maka itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Dokter juga tidak akan memberikan perawatan apapun, dan mungkin akan melakukan induksi. Namun pada beberapa kasus dapat meningkatkan kemungkinan operasi caesar.  

Komplikasi bisa lebih parah jika masalah ini terjadi pada tahap awal kehamilan. Bayi berisiko tinggi lahir prematur, lahir mati, keguguran, atau cacat lahir. Untuk mengatasi hal ini dokter akan merekomendasikan untuk memberikan infus atau minum lebih banyak air, disertai dengan pemantauan janin melalui ultrasound atau tes stres.     

Catatan

Rendahnya kadar air ketuban selama kehamilan merupakan kondisi serius. Ada beragam penyebab air ketuban sedikit, kebanyakan tidak memiliki penyebab dan sebagian lainnya karena faktor lain. Kondisi ini juga bisa terjadi kapan saja selama kehamilan, dan paling sering selama trimester akhir. 

Untungnya hal ini bisa diatasi dengan beberapa perawatan. Agar janin bisa berkembang sempurna, ibu harus memperhatikan tanda-tanda yang menunjukkan air ketuban sedikit. Jika ada kecurigaan, segeralah menemui dokter untuk mendapat pemeriksaan lebih lanjut.

Tak Perlu Cemas, Begini Atasi Kehamilan Risiko Tinggi

  • November 4, 2021

Kehamilan risiko tinggi adalah kondisi ketika sang ibu maupun bayi dalam kandungan menderita kondisi medis tertentu. Kondisi medis ini akan menyebabkan komplikasi yang mengganggu kelancaran proses kehamilan dan persalinan.

Masalah yang menyebabkan tingginya risiko kehamilan dapat diatasi dengan mudah melalui perawatan medis. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, kondisi ini juga bisa mengancam jiwa dan menjadi berbahaya. 

Upaya mengatasi kehamilan risiko tinggi

Meskipun bisa mengancam jiwa, namun Anda tidak perlu khawatir. Selama Anda melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin, Anda bisa mendeteksi masalah kehamilan dengan cepat, sehingga bisa mendapatkan perawatan medis secara cepat pula. 

Ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan guna mengatasi risiko kehamilan yang cenderung tinggi, contohnya seperti: 

  • Menjaga pola hidup sehat

Banyak kondisi medis yang berkembang akibat pola hidup yang tidak sehat. Inilah mengapa selama masa kehamilan, sang ibu dianjurkan untuk selalu menerapkan gaya hidup sehat karena akan memengaruhi kesehatan bayi dalam kandungan. 

Jika Anda memiliki kebiasaan merokok, sebaiknya hindari kebiasaan tersebut selama hamil. Ini juga berlaku untuk kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol. 

Selain itu, kurangi penggunaan obat-obatan maupun suplemen vitamin biasa. Selama mengandung, sebaiknya hanya gunakan suplemen atau obat yang memang dirancang khusus untuk wanita hamil. 

  • Menjaga kesehatan mental

Kehamilan risiko tinggi tidak hanya dipicu oleh masalah fisik, tetapi juga bisa dipengaruhi oleh masalah kesehatan mental. Wanita yang sedang mengandung rentan terhadap berbagai macam isu kesehatan mental. Jika tidak dijaga dengan baik, isu ini bisa memengaruhi kesehatan fisik dan meningkatkan risiko negatif kehamilan. 

Apabila selama masa kehamilan Anda merasakan adanya masalah dengan kesehatan mental Anda, maka cobalah berkonsultasi dengan psikolog. Jangan sungkan berobat ke psikolog, karena kesehatan mental Anda tetap harus menjadi prioritas demi kesahatan bayi dalam kandungan. 

  • Imunisasi untuk mencegah infeksi

Terkadang, ada infeksi yang bisa berkembang di tengah masa kehamilan. Perkembangan infeksi bisa memicu kehamilan risiko tinggi. 

Infeksi biasanya bisa diobati. Namun, akan lebih baik lagi apabila Anda bisa melakukan upaya pencegahan sejak awal dengan melakukan imunisasi khusus untuk wanita hamil. Konsultasikan dengan dokter Anda mengenai jenis vaksinasi yang perlu diambil untuk mengatisipasi kehamilan. 

  • Selalu rutin lakukan pemeriksaan 

Anda dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan rutin ke dokter selama masa kehamilan, setidaknya satu kali dalam sebulan. Ini penting untuk memonitor perkembangan bayi serta mendeteksi apabila ada tanda-tanda kelainan medis pada tubuh Anda atau sang bayi.

Semakin cepat kondisi medis terdeteksi, maka semakin cepat juga Anda bisa menjalankan pengobatan. Ini adalah cara terbaik untuk mencegah kehamilan risiko tinggi yang lebih parah. 

Apakah risiko kehamilan akan memengaruhi proses persalinan?

Tingginya risiko kehamilan tidak hanya memengaruhi masa kehamilan Anda, tetapi juga bisa memengaruhi kelancaran proses persalinan. Terkadang, dalam beberapa kasus, wanita dengan kehamilan yang berisiko tidak bisa menjalankan persalinan secara normal. 

Kebanyakan wanita dengan kondisi kehamilan yang berisiko hanya bisa melakukan persalinan dengan metode operasi caesar. Setelah persalinan, bayi akan langsung mendapatkan perawatan khusus untuk mengantisipasi apabila bayi menderita masalah khusus akibat kehamilan yang berisiko tinggi. 

Tidak perlu khawatir, banyak wanita dengan kehamilan risiko tinggi yang tetap bisa melahirkan secara lancar dan sehat. Pastikan untuk tetap menjaga kesehatan selama kehamilan untuk mengantisipasi risiko tak terduga yang berkembang di tengah masa kehamilan.

Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Menaikkan Gula Darah pada Bayi Baru Lahir

Cara Menaikkan Gula Darah pada Bayi Baru Lahir

  • October 29, 2021

Untuk menjalankan sistem metabolisme, tubuh memerlukan adanya gula. Namun, permasalahan gula darah bisa terjadi pada siapapun, baik orang dewasa maupun bayi yang baru lahir. Bagaimana cara menaikkan gula darah pada bayi secara aman?

Gula memang dibutuhkan di dalam tubuh, akan tetapi perlu adanya fungsi hormon insulin dan glikogen agar jumlah gula darah di dalam tubuh teratur, yakni tidak berlebihan ataupun kekurangan.

Kebanyakan orang akan mengira bahwa penyakit gula darah hanya dialami oleh orang dewasa. Padahal penyakit ini bisa dialami oleh siapa saja, tidak terkecuali bayi baru lahir. Kondisi gula darah rendah pada bayi disebut juga sebagai hipoglikemia neonatal.

Lalu, apa penyebab dan bagaimana cara menaikkan gula darah pada bayi baru lahir? Simak penjelasannya di bawah ini.

Apa itu hipoglikemia neonatal?

Neonatal atau neonatus adalah fase awal kehidupan bayi, yakni sesaat setelah dilahirkan hingga ia berumur empat minggu. Maka dari itu, Hipoglikemia neonatal adalah suatu kondisi di mana bayi yang baru saja dilahirkan sudah mengalami gula darah rendah.

Dikatakan bayi tersebut mengalami gula darah rendah bila kadar gula dalam tubuhnya kurang dari 30 mg/dl pada 24 jam pertama, dan kurang dari 45 mg/dl pada waktu setelahnya. 

Apa penyebab bayi mengalami gula darah rendah?

Sebenarnya, bayi yang mengalami gula darah rendah sesaat setelah lahir adalah hal yang wajar, karena adanya perubahan kehidupan dan sebagai bentuk adaptasi bayi dengan kondisi di luar rahim. Sebab, pada saat di dalam rahim, bayi masih memiliki pasokan glukosa melalui plasenta.

Namun, masih banyak faktor lainnya yang menyebabkan gula darah rendah pada bayi.

  • Saat masa kehamilan ibu mengalami kekurangan gizi atau malnutrisi
  • Ibu yang menderita diabetes dan produksi insulin yang berlebihan
  • Gangguan genetik metabolisme sejak lahir
  • Adanya penyakit hemolitik pada bayi, yakni antara ibu dan bayi mengalami ketidakcocokan tipe darah
  • Bayi terlahir prematur
  • Bayi mendapatkan kadar oksigen yang rendah selama proses melahirkan
  • Bayi mengalami hipotermia
  • Bayi memiliki penyakit liver
  • Bayi mengalami infeksi, seperti sepsis

Apa saja gejalanya?

Bayi yang menderita gula darah rendah atau hipoglikemia tidak bisa terlihat secara jelas dengan mata telanjang. Akan tetapi jika kondisi gula darah rendah sudah sangat parah, beberapa tanda di bawah bisa jadi akan terlihat.

  • Bayi tampak lesu dan sangat mudah mengantuk
  • Bayi mengalami hipotermia, yakni suhu tubuh yang sangat rendah
  • Bayi mengalami permasalahan pada pernapasan 
  • Bayi mengalami perubahan warna kulit, yakni menjadi pucat hingga kebiruan
  • Bayi mengalami kejang

Namun, ketika Anda melihat tanda-tanda tersebut pada bayi, pasti akan sulit untuk menentukan apakah kondisi tersebut disebabkan oleh gula darah rendah atau penyakit lainnya. Oleh karena itu, konsultasikanlah dengan dokter karena hal ini tidak bisa disepelekan. Bila tidak segera ditangani dengan tepat bisa saja menyebabkan terjadinya komplikasi penyakit lainnya pada bayi.

Bagaimana cara menaikkan gula darah pada bayi?

Dikarenakan bayi baru lahir tidak bisa mengonsumsi apapun, maka hal yang bisa dilakukan sebagai cara menaikkan gula darah adalah dengan pemberian ASI (Air Susu Ibu) secara rutin.

Dilansir dari laman IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) ada beberapa tata laksana cara menaikkan gula darah pada bayi.

1. Pemberian ASI pertama sedini mungkin dalam 30-60 menit

Pemberian ASI sedini mungkin pada bayi memang disebutkan secara khusus. Hal ini dikarenakan dengan pemberian ASI dapat mencegah bayi dari risiko dan menjadi terapi hipoglikemia.

Bayi yang baru lahir akan mendapatkan kolostrum yang berisikan protein, lemak, dan karbohidrat, sehingga bisa menaikkan glukosa darah menjadi stabil.

2. Pemberian asupan suplemen lainnya

Cara menaikkan gula darah rendah selanjutnya dengan pemberian asupan lainnya ini ditentukan oleh ketersediaan ASI ibu. Apabila ASI ibu tidak mencukupi, maka alternatif lainnya adalah donor ASI yang sudah dipasteurisasi.

Jika pilihan tersebut tidak ada, maka bayi dengan umur yang cukup bisa mendapatkan asupan lainnya, seperti pemberian susu formula. Namun, perlu diperhatikan pula apakah bayi ada alergi terhadap susu sapi atau tidak. Jika bayi memiliki alergi pada susu sapi, maka bisa menggunakan susu dengan formula khusus. 

Pemberian air gula juga bisa menjadi pilihan karena bisa meningkatkan sekresi insulin dan menunda mulainya glukoneogenesis alami dan proses homeostatis ketogenik.

3. Melakukan kontak kulit antara ibu dan bayi

Melakukan kontak kulit ke kulit adalah cara menaikkan gula darah rendah yang lainnya, karena dengan cara seperti ini akan merangsang pembentukan ASI.

Cara menaikkan gula darah rendah seperti ini bisa mempertahankan suhu tubuh normal, menurunkan pengeluaran energi, serta mempertahankan kadar glukosa tetap normal.

4. Sering memberikan minum

Cara menaikkan gula darah rendah pada bayi yang terakhir adalah dengan memberikan minum 10-12 kali dalam 24 jam pada beberapa hari setelah ia lahir. 

Hal ini tetap dibarengi dengan pemberian ASI. Tidak mengapa jika ASI diberikan secara sedikit namun sering dibandingkan dengan pemberian susu formula atau air gula.

Itulah pembahasan tentang hipoglikemia dan bagaimana cara menaikkan gula darah pada bayi. 

Pemberian ASI sangatlah penting untuk pertumbuhan dan perkembangan, serta menjaga sistem imunitas bayi agar terhindar dari berbagai sumber penyakit. Berikanlah ASI eksklusif pada bayi hingga umur 2 tahun.

Penanganan Infeksi Telinga pada Bayi

  • October 22, 2021

Infeksi telinga rentan sekali terjadi pada anak-anak dibandingkan orang dewasa. Infeksi telinga sering terjadi pada bayi dan anak kecil, terutama antara usia 6 dan 18 bulan. Infeksi telinga pada bayi akan dialami ketika mereka menderita sakit tenggorokan, pilek, atau infeksi saluran pernapasan atas.  Karena pada kondisi ini virus atau bakteri akan masuk ke telinga dari tenggorokan melalui eustachius yang mengalir dari belakang tenggorokan ke telinga tengah.

Pada dasarnya anak-anak memiliki saluran eustachius yang pendek dan sempit, oleh karena itu mereka rentan terhadap infeksi telinga tengah. Saat anak- anak mulai tumbuh, saluran eustachius mereka akan tumbuh lebih panjang, dan lebih kecil kemungkinan bagi mereka mengalami infeksi telinga.

Terdapat beberapa alasan mengapa anak-anak lebih rentan terkena infeksi telinga daripada orang dewasa. Anak- anak memiliki Tuba Eustachius lebih kecil dan lebih tinggi daripada orang dewasa. Hal ini menyebabkan cairan pada telinga sulit untuk mengalir keluar dari telinga, bahkan dalam kondisi normal. Jika saluran eustachius mengalami pembekakkan atau tersumbat oleh lendir karena pilek atau penyakit pernapasan lainnya, kemungkinan cairan tidak dapat mengalir.

Kemudian, anak- anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih lemah sehingga tubuhnya belum terlalu untuk melawan infeksi. Selain itu, amandel dan kelenjar gondok juga dapat menyebabkan bakteri terperangkap di dalamnya kemudian dapat menyebabkan infeksi yang bergerak melalui saluran Eustachius ke telinga tengah.

Jika anak Anda sering mengalami infeksi telinga, mungkin Anda sudah mengetahui dengan baik gejala yang terjadi:

  • Rewel dan demam
  • Cairan mengalir dari telinga
  • Menarik- narik telinga
  • Mengalami gangguan pendengaran
  • Ketidakmampuan untuk merespon pada suara bervolume rendah

Cara Menangani Infeksi Telinga pada Bayi

Beberapa infeksi telinga dapat sembuh dengan sendirinya. Penggunaan antibiotic juga sangat diperlukan selama masa perawatan. Sebelumnya konsultasikan terlebih dahulu penggunaan antibiotik dengan dokter THT Anda untuk memastikan bahwa anak Anda meminumnya hanya jika diperlukan. Terdapat kemungkinan penggunaan antibiotic akan mengembangkan resistensi bakteri terhadap antibiotik yang sering digunakan.

  • Otitis Media Akut dapat menjadi lebih baik jika tanpa pengobatan. Jika infeksi tidak membaik dalam 2-3 hari, antibiotik dapat membantu. Namun, beberapa jenis OMA disebabkan oleh virus yang tidak merespon pengobatan antibiotik.
  • Otitis Media dengan Efusi (OME) hampir selalu hilang dengan sendirinya tanpa harus menggunakan antibiotik. Cairan mungkin tetap berada di telinga untuk sementara waktu tetapi infeksi akan surut jauh sebelum itu.

Sebagian besar kasus infeksi telinga sembuh tanpa adanya pengobatan dalam beberapa hari. Penggunaan antibiotik umumnya tidak membantu, sehingga harus fokus dalam melakukan pengobatan guna menghilangkan rasa sakit. Anda bisa melakukan seperti:

  • Memberikan obat pereda nyeri anak Anda dalam dosis yang direkomendasikan untuk usia mereka
  • Gunakan obat tetes telinga anestesi atau antibiotik untuk infeksi telinga luar, berdasarkan rekomendasi dokter

Hal yang harus dihindari selama perawatan infeksi telinga:

  • Membersihkan telinga dengan cotton buds atau kapas
  • Memberikan obat tetes telinga kecuali dianjurkan oleh dokter atau apoteker
  • Membiarkan anak Anda mendapati air di telinganya jika gendang telinganya pecah, 

Kapan Harus Menghubungi Dokter?

Segera hubungi dokter jika:

  • Demam berlangsung lebih dari dua hari dengan antibiotik
  • Sakit telinga menjadi parah atau anak menangis tanpa henti
  • Sakit telinga berlangsung lebih dari tiga hari dengan antibiotik
  • Kotoran telinga tidak lebih baik setelah tiga hari minum antibiotik
  • Kondisi anak semakin memburuk 

Setelah berkunjung ke dokter, biasanya dokter akan meresepkan antibiotik untuk melawan infeksi telinga anak Anda. Jangan berhenti memberikan obat ketika anak Anda mulai merasa lebih baik. Seluruh dosis harus diberikan untuk membunuh bakteri penyebab infeksi dan mencegahnya kambuh lagi. Konsultasikan dengan dokter THT untuk memastikan kesembuhannya.

Agar infeksi telinga pada bayi lekas membaik, lakukan berbagai pencegahan untuk meminimalisir terjadinya infeksi kembali. Infeksi telinga tengah umumnya terjadi setelah anak flu, jadi menjaga kesehatan anak Anda itu sangat penting. Jauhkan anak Anda dari asap rokok, yang mengurangi drainase cairan di telinga.

Mengenai Bantal Bayi Anti Peyang dan Cara Mencegah Kepala Peyang

  • October 8, 2021

Bantal bayi anti peyang jadi salah satu produk yang banyak dicari dan digunakan oleh orang tua modern. Masalahnya, apakah perlengkapan ini benar-benar aman?

Bayi yang baru lahir memang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur. Masa-masa ini disebut masa newborn, yakni rentang 2-4 bulan awal.

Nah jika Anda orang tua baru, mungkin Anda khawatir menidurkan si kecil di kasur tanpa perlengkapan tambahan seperti bantal, guling kecil, atau bahkan selimut. Kekhawatiran itu dapat dipahami, tapi tidak sepenuhnya tepat.

Bantal anti peyang membantu mencegah kepala bayi berubah bentuk

Faktanya, bantal tidak aman digunakan oleh bayi. Tempurung kepala bayi yang baru lahir masih lembek. Artinya, bentuk kepala mudah berubah saat tertekan.

Jika dibiarkan tertekan di satu sisi terus-menerus, mungkin di area belakang kepala, kondisi ini dapat menyebabkan kepala peyang si kecil. Mungkin Anda mengkhawatirkan kondisi tersebut sehingga mencoba mencari solusi seperti bantal bayi anti peyang.

Memang modern ini bantal bayi anti peyang sudah lebih dikenal dan banyak digunakan. Namun, apakah bantal jenis ini benar-benar efektif?

Apakah bantal aman untuk bayi?

Bantal aman dan boleh digunakan bayi, tapi untuk usia minimal dua tahun. Sebelum itu, sebaiknya Anda tidak memberikan bantal untuk si kecil, bahkan termasuk bantal bayi anti peyang.

Jika Anda menidurkan si kecil di dalam tempat tidur bayi, tentu si kecil akan mendapatkan perlindungan ekstra di suakanya tersendiri. Saat ini banyak produsen yang berlomba-lomba mengenalkan bantal anti peyang.

Namun, menurut American Academy of Pediatrics, bantal sebenarnya tidak aman untuk bayi. Penggunaan bantal ketika menidurkan bayi justru meningkatkan risiko sudden death during infancy (SIDS).

Menurut para ahli, bantal sebaiknya dikenalkan pada bayi mulai usia 2 tahun. Di usia ini mereka tidak lagi tidur di tempat tidur bayi dan bisa bergerak dan membalikkan tubuh tanpa bantuan.

Untuk bayi berusia 4-12 bulan, apalagi sebelumnya, perlengkapan tambahan seperti bantal justru dapat meningkatkan risiko kematian. Sebaiknya tidurkan bayi di kasur yang lembut tapi keras, jangan gunakan bantal.

Bahkan sampai usia 2 tahun, sebaiknya tidurkan bayi di kasur khusus untuk bayi. Biasanya kasur ini tidak terlalu empuk, tidak mudah berubah bentuk, meski tentu tetap nyaman digunakan oleh si kecil.

Mengenai bantal bayi anti peyang

Meskipun demikian, jika Anda merasa perlu menggunakan bantal, tidak ada salahnya memilih bantal bayi anti peyang. Bantal jenis ini didesain khusus untuk memberikan kenyamanan sekaligus mengurangi risiko.

Biasanya bantal anti peyang didesain seperti donat, yakni dengan lubang mendatar di area belakang. Lubang inilah yang menjadi tempat kepala bayi secara tidur.

Tentu ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan seperti usia bayi dan bantal yang cocok dengannya. Simak rekomendasi bantal bayi anti peyang versi SehatQ di sini

Yang bisa Anda lakukan untuk mencegah kepala peyang

Seperti yang dijelaskan di atas, kepala peyang pada bayi terjadi karena tertidur di satu posisi yang sama dalam waktu lama. Katakanlah bayi terlentang dalam waktu lama, artinya bagian belakang kepalanya mungkin akan berubah jadi datar.

Kondisi ini sangat mungkin terjadi karena tempurung kepala bayi masih sangat lembut, jadi mudah berubah-ubah. Untuk itu, selain memperhatikan posisi tidur si kecil, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah bayi kepala peyang, di antaranya:

  • Jangan terlalu sering membuat bayi tidur terlentang saat terbangun
  • Tidurkan bayi di posisi yang berbeda-beda, misal menyamping
  • Ubah posisi tidur bayi di setiap pekan. Si kecil justru lebih bersemangat karena melihat pemandangan berbeda-beda
  • Saat Anda bepergian, coba gunakan kereta dorong dan gendongan secara bergantian
  • Memaksimalkan kesempatan tummy time si kecil, yaitu posisi seperti merangkak
  • Pancing bayi melihat ke arah berbeda dalam posisi tidurnya, bisa dengan mainan terang atau lampu
  • Jika Anda menyusui, pastikan bertukar posisi secara teratur
  • Jangan panik. Jika Anda mendapati satu sisi kepala bayi mulai peyang, ubah posisi untuk memperbaikinya

Tentu, jika kondisi peyang si kecil sudah cukup parah, bantal bayi anti peyang saja tidak akan membantu. Segera temui dokter untuk mendapatkan rekomendasi perawatan yang tepat.

4 Hal Penting untuk Memilih Sendok Bayi Terbaik

  • June 4, 2021

Sendok untuk bayi memiliki jenis dan bentuk yang berbeda-beda. Namun untuk memilih sendok makan bayi terbaik untuk kenyamanan anak saat makan, ada 4 hal yang perlu Anda perhatikan.

Sangat penting bagi Anda, terutama ibu baru, untuk memilih sendok makan yang benar dan baik. Banyak ibu baru yang kesulitan memilih peralatan makan untuk sang anak karena salam membeli bisa mengganggu proses makan dan membuat si buah hati tidak nyaman. 

sendok makan bayi

4 hal penting dalam membeli sendok bayi terbaik

Ada 4 hal yang perlu Anda perhatikan saat hendak membeli sendok makan bayi Anda yang sudah mulai mengonsumsi makanan padat, antara lain:

1. Bentuk dan ukuran

Memilih bentuk sendok yang tepat sangat penting, misalnya jangan memilih kepala sendok yang terlalu lebar karena sulit untuk bisa digunakan bayi. Tak hanya itu, bayi juga bisa kesulitan memegang gagang sendok jika berukuran terlalu besar.

Untuk bayi yang baru saja menginjak usia pengenalan makanan padat selain ASI, pilihlah kepala sendok yang tidak terlalu melengkung dan nyaris datar sehingga mudah saat menyuapkan makanan dan tidak membuat bayi tersedak. Kemudian, pilih sendok dengan bentuk kepala yang bulat dengan pinggiran yang halus agar tidak berisiko menggores mulut bayi. 

2. Bahan

Hindari menggunakan sendok berbahan besi saat menyuapi bayi karena bisa menyakiti gusi mereka yang lembut. Sendok bayi terbaik menggunakan bahan yang bebas BPA sehingga 100 persen aman untuk bayi.

Kebanyakan sendok makan bayi terbuat dari silikon, plastik, atau karet. Gagang sendok bisa terbuat dari bahan yang sama atau dari besi, kayu, bambu, atau plastik yang lebih keras, tapi pilihlah bahan yang aman dan tahan-panas seperti silikon atau stainless steel.                     

3. Bagian gagang

Bagian gagang penting terutama saat sang bayi sudah mulai bisa menyuapi makanannya sendiri. Jika bagian gagang terlalu sulit untuk dipegang, proses makan akan menjadi masalah dan bisa jadi sang anak jadi tidak menyukai waktu-waktu makan.

Carilah bahan gagang sendok yang mudah digenggam oleh anak, contohnya berbahan silikon dan bentuknya sedikit melengkung dengan gagang yang tidak terlalu panjang. Bahan silikon atau bahan yang tidak licin akan mudah digenggam oleh bayi. 

4. Mudah dicuci

Cek apakah bahan sendok bayi yang akan anda pilih mudah untuk dicuci atau dibersihkan. Selain itu, pastikan seberapa tahan panas dan dingin dari sendok tersebut. 

Selain itu, jangan pilih sendok yang ujungnya mudah atau bisa dilepaskan. Karena sendok jenis ini berbahaya karena bisa tertelan oleh bayi jika tidak terpasang dengan baik dan kencang. 

Pilihlah sendok satu potongan dan tidak terpisah dengan ujung yang tidak tajam agar tidak melukai mulut dan gusi bayi. 

Apa yang harus dilakukan jika anak menolak sendok?

Bukan tidak mungkin anak Anda akan menolak kehadiran sendok, karena menurutnya benda tersebut masih asing. Hal tersebut normal terjadi pada tahap pengenalan makanan dari usia 6 hingga 11 bulan saat mereka mulai belajar makan sendiri. 

Bagaimana cara mengatasinya? Jika bayi Anda sudah mendekati usia 9 bulan, bersiaplah untuk membangun kebiasaan makan pada Anak dengan mengenalkan finger food dan cara menggunakan peralatan makan agar ia mendapatkan kalori dan nutrisi yang cukup. 

Tidak perlu menggunakan taktik tertentu untuk mengajak anak agar bisa makan, seperti contoh teknik ‘pesawat’ atau menggunakan gadget atau bahkan buku justru bisa membuat waktu makan bagi mereka seperti mimpi buruk atau menegangkan.

Percayakan pada anak Anda berapa banyak dan apa yang ingin ia makan. Meskipun tidak ada masalah dengan menyuapi, namun sebaiknya jangan sampai cara Anda menyuapi anak justru merusak waktu makan dengan mereka.

Memilih dan menggunakan sendok bayi terbaik sangat penting dalam waktu makan anak. Membangun waktu makan yang menyenangkan bagi Anak baik agar mereka tidak sering menolak makanan atau justru takut akan waktu makan.